Rabu, 23 Maret 2016

Untuk Sebuah Nama

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku punya harapan besar atas keberadaanmu kelak
Aku ingin Allah menghadiahkanmu hanya untukku
Aku ingin engkau menjadi imamku
Tak hanya imam sholat tapi juga imam dunia akherat
Tak hanya imam aku semata tapi imam untuk anak-anak kita juga

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku punya harapan besar atas keberadaanmu kelak
Aku ingin engkau tak hanya mengajak keluarga kecil kita menuju surga Nya
Tapi engkau mengajak seluruh keluarga besar kita menuju surga Nya
Aku ingin kelurga kecil dan keluarga besar kita selalu berkumpul di dunia dan akherat Nya

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku punya harapan besar atas keberadaanmu kelak
Aku ingin engkau selalu mengingatkanku untuk selalu mengingat Allah dan mencintai Rasul Nya
Aku ingin engkau selalu membawaku ke ketenangan di bawah naungan islam
Aku ingin engkau selalu mengiringiku memperdalam ilmu-ilmu agama
Aku ingin engkau selalu mengajarkanku sunah-sunahnya
Karena aku tau, ilmu agamaku masih sangat dangkal

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku punya harapan besar atas keberadaanmu kelak
Aku ingin engkau tetap dan selalu istiqomah di jalan Nya
Aku ingin engkau semakin cinta berkunjung ke rumah Nya
Aku ingin engkau menjadi contoh yang baik untuk keluarga kecil, besar maupun lingkungan kita
Aku ingin engkau membawa suasana islami dimana pun engkau berada

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku berharap kita akan segera dipertemukan Nya dalam ikatan suci sebuah pernikahan
Aku berharap kita dapat menjalankan sunahnya
Aku berharap kita dapat segera membenahi kehidupan kita menuju yang lebih baik
Karena pada saat itu, kita tak lagi sendiri, kita berdua bersama-sama akan mengarungi samudera kehidupan

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku rindu ingin segera bertemu
Jangan terlalu lama lagi menyiksaku
Tapi aku yakin rencana Nya, pasti lebih indah, jauh dari apa yang sudah kita perkirakan

Untuk sebuah nama yang aku pun belum tau itu siapa
Aku disini akan setia menunggumu
Menunggu engkau menemui waliku
Sampai bertemu wahai kekasihku

Senin, 28 April 2014

sepasang Ayah 'n Anak

Sambil menikmati sore, terbebas dari rutinitas hari ini, hanya sekedar melepaskan lelah sambil mengisi perut yang belum terisi sama sekali sejak tapi pagi. Aku menetapkan pilihan menikmati mie ayam dan green tea tobi-tobi di dekat kos. Sedang asik-asiknya menikmati hidangan di depanku, sepasang ayah anak duduk tepat di depanku.
“Mau dibuka mas?”
“Iya”
Si ayah membukakan susu coklat itu.
“Hmm... enak” ucap si ayah.
“Hmm... enak” tiru si anak.
Dalam waktu sepuluh menit, susu itu pun kandas. Si anak mulai mencari kesibukan.
“Ayah itu apa?”
“Saos.”
“Saos. Kalau itu?”
“Kecap.”
“Kecap. Kalau yang itu?”
“Cuka.”
“Cuka. Kalau yang itu?”
“Kecap.”
“Kecap. Kalau yang itu?”
Semuanya ditunjuk secara berulang tapi si ayah tetap dengan semangatnya memberitahukan apa yang ditunjuk si anak. Si anak pun tak kalah semangatnya menirukan semua yang diucapkan si ayah.
Pesanan yang mereka nanti pun akhirnya datang juga.
“Hmm... mie.”
“Bentar, panas mas.”
“Nggak panas.” Celoteh si anak padahal dia hanya melihatnya.
“Aku mau mie yah.”
“Iya. Ayo berdoa dulu.”
Si ayah menundukkan kepalanya diikuti oleh lantunan doa sebelum makan dari mulut kecil si anak. Walau masih kecil, suaranya terdengar fasih dan lantang, terlihat bahwa dia cukup menguasai doa tersebut.

“Bismillahhirrohmanirrohim. Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar. Aamiin.”
“Bentar mas, panas.”
Si anak tak sabar ingin menyantap mie tersebut tapi ayahnya melarangnya, si anak pun sabar menunggu perintah ayahnya. Si ayah bergegas meminta satu mangkuk lengkap dengan sendok garpu ke si penjual dan diletakkan di depan si anak. Ayah berbagi sedikit mie dan pentolnya ke si anak.
“Hmm... mie.”
Si anak antusias menunggu perintah ayahnya untuk mempersilakannya makan.
Mereka berdua makan dengan riewuh tapi terlihat menyenangkan.
Tak terasa makanan dan minumanku habis, aku pun bergegas pergi meninggalkan keromantisan antara ayah dan anak yang baru saja aku saksikan.
Terimakasih buat sepasang ayah dan anak di depanku tadi, walau aku hanya mengamati kalian dalam diam, meski kalian riewuh di depanku dengan keberisikan kalian, tapi kalian sudah mengajarkan banyak tentang arti sebuah kasih sayang dan hubungan baik antara ayah dan anak.
 

“Bentar mas, panas.”
Si anak tak sabar ingin menyantap mie tersebut tapi ayahnya melarangnya, si anak pun sabar menunggu perintah ayahnya. Si ayah bergegas meminta satu mangkuk lengkap dengan sendok garpu ke si penjual dan diletakkan di depan si anak. Ayah berbagi sedikit mie dan pentolnya ke si anak.
“Hmm... mie.”
Si anak antusias menunggu perintah ayahnya untuk mempersilakannya makan.
Mereka berdua makan dengan riewuh tapi terlihat menyenangkan.
Tak terasa makanan dan minumanku habis, aku pun bergegas pergi meninggalkan keromantisan antara ayah dan anak yang baru saja aku saksikan.
Terimakasih buat sepasang ayah dan anak di depanku tadi, walau aku hanya mengamati kalian dalam diam, meski kalian riewuh di depanku dengan keberisikan kalian, tapi kalian sudah mengajarkan banyak tentang arti sebuah kasih sayang dan hubungan baik antara ayah dan anak.
 



Note:

  • Orang tua adalah contoh dari setiap anak.
  • Anak akan selalu mencoba meniru apa yang dilakukan dan diucapkan orang tua
  • Anak akan menjadi penurut ketika orang tua mau memperhatikannya dengan baik
  • Orang tua tak pernah lelah mengajari anaknya walaupun itu terlihat membosankan
  • Keingintahuan anak yang tinggi perlu dimanfaatkan orang tua untuk melatih intelektualnya sekaligus mengajarinya tentang kehidupan sosial
  • Sesibuknya orang tua kita, mereka masih menyempatkan berbincang dan pergi bersama kita
  • Sebaik-baiknya sahabat adalah orang tua
 I love you so much ayah ‘n ibu...i always do miss you :*

Minggu, 21 Juli 2013

21-7-2013


malam ini aku sedikit terlambat tiba di masjid
dan malam ini adalah untuk pertama kalinya aku berangkat tarawih sendiri pada ramadhan tahun ini
ternyata kesendirianku tak bertahan lama
sesampainya di masjid, aku bergegas menggelar sajadah dan mengenakan mukenah karena imam sudah melayangkan takbirnya
tiba-tiba seorang gadis kecil berdiri di sampingku dan mengucapkan takbir
aku pun tak mau ketinggalan sholat terlalu jauh
aku segera membagi sajadahku dan bergegas bertakbir
sholat isya' berjalan sesuai dengan syariatnya
gadis kecil di sampingku pun mampu mengikutinya dengan benar hingga selesai
sepertinya dia sudah mahir dengan gerakan-gerakan sholat

"namamu siapa?" aku memulai percakapan
"halwa" jawabnya singkat
"kamu kesini sama sapa?"
"sama abi"
"umimu mana?"
"di jawa barat"

waktu semakin sempit, aku bergegas melaksanakan sholat sunah
gadis kecil itu pun beranjak dari tempat duduknya, sepertinya dia pergi menengok abinya di sebelah
belum sempat aku ngobrol lagi dengan gadis kecil itu, imam sudah mengajak jamaah sholat tarawih

tarawih I : mengikuti hingga tuntas
tarawih II : duduk diam
tarawih III : tidur-tiduran
tarawih IV : tidur beneran tapi belum terlelap

"ayo sholat"
"pusing"
"u pilek ya?sudah minum obat?"
"belum"
"ya wes, bobok aja. kalau sakit kenapa tadi ikut? di rumah gak ada orang?"
dia hanya menunduk, pertanda mengiyakan pertanyaanku

sholat tarawih pun selesai dan dilanjutkan dengan ceramah
tersirat di wajah gadis kecil itu keinginan untuk tidur tapi apa daya, dia harus menemani ayahnya sholat tarawih

"namamu tadi sapa?"
"halwa"
"lengkapnya?"
"halwa salsabila hasan"
"artinya apa?"
dia hanya menjawab dengan senyuman
"sekarang kelas berapa?"
"kelas dua"
"umimu ke jawa barat sama sapa?"
"sama adek"
"u punya berapa adek?"
"satu"
"punya kakak juga?"
"iya, satu"
"disini sekarang sama sapa aja?"
"sam abi, ... ... ... (gak terlalu menyimak dan mengingat sapa saja yang disebutkan)
"nanti kalau besar pengen jadi apa?"
"guru"
"umi guru juga"
dia hanya diam, sepertinya bingung, tak tau apa yang sedang digeluti orang tuanya

aku membiarkannya berbaring di atas sajadahku
semakin lama semakin terlihat tidurnya yang semakin terlelap
dan semakin terdengar suara nafasnya yang berusaha menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida
namun, sepertinya flu tak terlalu menghiraukan hak bernafas gadis kecil itu

semakin melihat sosok gadis kecil itu, aku jadi teringat kisahku beberapa tahun yang lalu
tepatnya ketika aku kelas 3 SD
selama aku hidup, aku tak pernah jauh dari orang tuaku
dimana ada orang tuaku, disanalah aku hidup dan berada

perpisahan sesaat itu berawal ketika secara tiba-tiba ibu mendapat kabar bahwa mbah uti sedang koma di rumah sakit dan diduga terkena serangan stroke
ibu yang mendengarkan kabar itu serasa tak percaya
setau keluarga, mbah uti tak punya riwayat darah tinggi
kebetulan waktu itu adeknya ibu sedang berada di rumah, mereka pun bergegas pulang ke desa
mbah uti adalah orang tua satu-satunya dari ibu
aku pun tak pernah berani membayangkan bagaimana perasaan dan pikiranku jika aku di posisi ibu ketika itu
ibu dan masku (adek ibu) mengajak adekku pergi menuju rumah sakit tempat mbah uti dirawat
aku tak diijinkan ikut karena waktu itu aku sedang menghadapi ujian sekolah
aku tinggal hanya bersama ayah
untuk pertama kalinya aku ujian tanpa didampingi ibu
aku membuka-buka sendiri buku pelajaran dan latihan soalku
tanpa ada yang membacakan ulang pertanyaan-pertanyaan itu lagi
aku terlihat seperti biasa tapi ternyata hati ini tak biasa
tak terasa badan semakin drop, sakit mulai merasuk
suaru batuk yang sangat menyayat hati ayah terdengar setiap harinya
hampir tiap malam aku diajak ke rumahnya yek (seharusnya lek "bulek")
orang yang merawatku sejak kecil
aku pun dipijat oleh tetangga yek
tiap hari dibelikan pangsit mie ayam (my favorite food)
namun sakitku tak kunjung sembuh
akhirnya, ayah mengajakku berkunjung ke desa
akhirnya pula, aku bertemu lagi dengan ibu dan adek
ketika bertemu, bukan kelegaan yang aku dapatkan
miris, kesedihan, kasihan
karena mbah uti tak kunjung sembuh dan alat di rumah sakit itu kurang lengkap
mbah uti dipindah ke rumah sakit kabupaten yang letaknya semakin jauh dari rumah mbah uti
tiap hari ibu harus bolak-balik rumah dan rumah sakit naik bis kota
tidak hanya itu, adekku yang waktu itu berumur 3 tahun pun turut berpanas-panasan di dalam bis kota
adek dan ibu pun akhirnya sakit pula
sebenarnya aku ingin mengajak ibu dan adek pulang saja
tapi ketika aku melihat mbah uti, keegoisan itu pudar
mbah uti tak kunjung sadar padahal sudah koma selama 2 minggu
karena waktu ayah yang tak banyak, aku dan ayah kembali lagi ke rumah
aku sudah tak mampu lagi menahan air mata
aku meneteskan air mataku tanpa suara
aku terus menatap ke sebelah kiri kaca mobil
aku takut dan malu kalau ayah tau aku menangis meskipun sebenarnya ayah pun tau
ayah tetap fokus melajukan mobil
tanpa bertanya dan tanpa menegur
membiarkan aku menangis dalam diamku
semenjak aku bertemu dengan ibu dan adek, kesehatanku pun semakin pulih
ujianku juga sudah selesai
tidak banyak yang harus aku lakukan di rumah karena ayah memang tak pernah menyuruhku
ayah selalu menganggapku sebagai gadis kecilnya
tapi aku tak mau dianggap seperti anak kecil terus
aku berinisiatif menggantikan posisi ibuku sementara
biasanya ibu membuatkan ayah secangkir kopi tiap sorenya
aku pun mencoba, aku buatkan ayah kopi
karena tak tau seberapa takarannya, aku pun mencicipinya
ternyata panas sekali, lalu aku menambahkan sedikit air dingin
hmm...cukup, enak, dan tak terlalu panas
mungkin ayah tau kalau aku tak pernah buat kopi sebelumnya
sebelum minum, ayah bertanya, aku pakai air apa aja
aku bilang kalau pakai air panas dan sedikit air dingin
ayah pun bilang, kalau kayak gitu ya bisa kembung perutnya ayah
kalau buat kopi cuma pakai air panas aja, ujar ayah sambil tertawa
sejak saat itu, aku baru tau kalau cara membuat kopi dan teh itu berbeda.hehehe...

assholatul jami'ah
suara imam menyadarkanku dari lamunanku
aku pun bergegas berdiri untuk menunaikan sholat witir
hingga witir selesai, gadis kecil itu masih tertidur
setelah berdoa selesai, para jamaah semakin riuh dan gadis kecil itu bangun dengan sendirinya
aku tak tau kemana perginya gadis kecil itu karena aku pun larut bercakap-cakap dengan temanku

semoga cepat sembuh dek halma
dan semoga umi serta adekmu sehat disana
dan kalian bisa bersama-sama menunaikan ibadah ramadhan di tempat yang sama
aamiiin :)

Sabtu, 22 Juni 2013

#edisi galau

Dulu...ketika mendengar namamu disebut
tak ada getaran maupun penasaran yang terbesit di dalam hatiku
namamu, bahkan dirimu lewat begitu saja di telinga dan mataku
kekaguman teman-temanku akan dirimu pun, tak membuatku turut mengagumimu
begitulah diriku...aku tak mudah jatuh cinta

Namun, setelah hari itu
setelah nama kita disebut secara bersama
aku mulai penasaran akan dirimu
penasaran di balik sosok dirimu

Sejak saat itu pula, aku mulai mencari tahu tentang dirimu
tak sulit menemukan info tentang dirimu
engkau dikenal oleh banyak khalayak

Sebenarnya, aku ingin bertanya langsung padamu
bertanya tentang apa yang sedang kau kerjakan
apa yang engkau suka
apa yang engkau inginkan
namun, untuk membalas komentarmu saja aku sudah salah tingkah
aku tak mampu mengetik banyak kata
aku hanya mampu mengetik singkat menjawab pertanyaanmu
bukan aku tak ingin, tapi aku tak kuasa menahan bahagiaku

Namun, sepertinya engkau salah mengartikan
sekarang, aku jarang melihat namamu hadir di sosial mediaku
dan yang paling membuatku sedih
sepertinya engkau sedang mengagumi orang lain

Terkadang hati ini ingin berontak
ingin mengatakan apa yang mengganjal di hati
namun otak selalu mampu menahannya
"kalau memang orang lain lebih baik buat dia, maka bersyukurlah, relakan"

Mungkin hingga saat ini dia belum tau apa yang aku rasa
dan aku pun belum tau apa yang dia rasa
aku hanya mengharapkan dia di dalam doaku
jika aku mampu membahagiakan dia
dan jika aku sanggup membawanya ke surga-Nya
aku sangat berharap dia akan menjadi satu-satunya pendampingku
dan aku menjadi satu-satunya pendampingnya

Ya Allah...dekatkanlah jodoh kami
jangan biarkan kami berlama-lama dalam kegundahan akan cinta

aamiiin

Jumat, 08 Maret 2013

IKHLAS, Sulitkah???



“Sesuatu yang paling berharga di dunia ini ialah keikhlasan.” (Yusuf bin Husain Ar-Razi)

Lalu apakah itu ikhlas? Bagaimana bentuknya?
Ikhlas merupakan satu kata sederhana yang memiliki banyak penafsiran. Bisa jadi tiap orang memiliki penafsiran yang berbeda tentang pengertian ikhlas. Ada yang berpendapat bahwa ikhlas berarti hanya mengharap balasan dari Allah. Ada pula yang berpendapat hanya memaksudkan ketaatan kepada Allah, dan lain sebagainya. Pada hakikatnya yang dimaksud adalah sama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan dengan ikhlas dan ditujukan untuk mengharap wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)

Lalu mudahkah ikhlas itu?
Abdullah bin Mutharrif berkata, “Mengupayakan keikhlasan dalam amal sampai benar-benar ikhlas lebih sulit daripada beramal itu sendiri.”
Walaupun ikhlas terlihat sepele, namun ternyata pelaksanaannya cukup sulit, terutama bagi yang sudah mengukir otaknya dengan tulisan “ikhlas itu sulit”. Sebab, keikhlasan akan menghalangi dirinya dari keinginan-keinginan dan syahwatnya. Untuk mewujudkan dan mempertahankannya dibutuhkan usaha yang besar.
Ats-Tsauri berkata, “Saya tidak pernah menangani sesuatu yang lebih sulit daripada niat saya. Niat saya sering terbolak-balik.”

Bagaimana mengupayakan keikhlasan?
1. Mengagungkan Allah sebagaimana mestinya
Segala nikmat adalah dari-Nya dan segala kebaikan adalah dari kemurahan-Nya. Jika seorang hamba bisa berbuat sesuatu, itu adalah berkat bantuan Allah. Apapun yang Dia kehendaki pasti terjadi, sementara yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

2. Mempelajari hakikat keikhlasan
Yahya bin Abu Katsir menuturkan, “Pelajarilah niat, sesungguhnya niat itu lebih sulit daripada amal!”
Al-Maqdisi menulis, “Duhai, bagaimana akan baik niat seseorang yang tidak mengerti hakikat niat? Atau bagaimana akan ikhlas seseorang yang membenarkan niat, jika ia tidak mengerti hakikat ikhlas? Atau, bagaimana seseorang yang ikhlas menuntut dirinya untuk tulus, jika ia tidak memahami dengan baik makna ketulusan? Kewajiban pertama seorang hamba yang ingin menaati Allah adalah mengetahui terlebih dahulu apa itu niat agar ia berma’rifah kepada-Nya. Lalu, barulah ia membenarkannya dengan amal, setelah ia memahami hakikat ketulusan dan keikhlasan yang merupakan jalan menuju keselamatan bagi seorang hamba.”

3. Mengingat-ingat pahala ikhlas dan akibat tidak ikhlas
“Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan adzab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.” (QS. Ash-Shaaffaat : 38-44)

4. Muraqabah dan mujahadah
Caranya dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri sebelum beramal. Apakah yang diinginkan? Jika niatnya benar, maka mulai beramal. Jika niatnya tidak benar, maka mesti diluruskan dulu sebelum memasuki gerbang amal.
Umar berpesan, “Waspadalah terhadap hasrat yang ada sebelum terjadi kesalahan. Sesungguhnya, hal itu adalah awal dari kesalahan. Selain itu, janganlah kamu lupa kepada Allah sehubungan dengan isi hati kalian.”

5. Isti’anah atau memohon pertolongan kepada Allah
Caranya dengan menampakkan kebutuhan kepada Allah, memperbanyak doa, dan tawassul kepada-Nya supaya diberi taufik untuk ikhlas karena Allah adalah Zat yang mampu membolak-balikkkan hati dan memalingkannya. Memohon pertolongan kepada-Nya adalah jalan terbaik untuk menggapai keikhlasan dan menepis kebalikannya karena tidak ada daya dan kekuatan untuk beribadah, kecuali dengan pertolongan Allah.
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.: (QS. Al-Fatihah : 5)

6. Memperbanyak amal ibadah
Setan ingin agar seorang hamba meninggalkan amal ibadah sama sekali atau mengerjakannya tidak sebagaimana mestinya.
Al-Hasan Al-Bashri berujar, “Jika setan melihatmu dan mendapatimu konsisten di dalam menaati Allah, ia akan bosan kepadamu dan berpaling darimu. Namun, jika kamu kadang-kadang taat dan kadang-kadang melanggar, maka setan akan bersungguh-sungguh untuk memperdayaimu.”

7. Meninggalkan ujub dan meremehkan orang lain
Salah satu pintu masuk setan yang paling lapang kepada seorang hamba ialah mendorongnya untuk melihat amalnya, berbangga atasnya, dan berusaha supaya dilihat orang lain disaat melakukannya. Padahal, berbangga atas amal atau ujub merupakan bentuk syirik, menyekutukan Allah dengan diri sendiri.
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS. Al-Hujurat : 17)

8. Berkawan dengan orang-orang yang baik
Rasulullah bersabda, “Seseorang itu seakhlak dengan kawan dekatnya maka hendaklah setiap orang melihat siapa yang menjadi kawan dekatnya. Perumpamanaan teman yang baik dan teman yang buruk laksana pembawa minyak wangi dan peniup besi (pandai besi). Pembawa minyak wangi, mungkin kamu membeli minyak wangi darinya atau kamu akan mendapati aroma wanginya. Sedangkan peniup besi mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu akan mendapati aroma yang gosong.

9. Meneladani orang-orang yang ikhlas
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab : 21)

10. Menjadikan ikhlas sebagai tujuan
Banyak orang yang ingin ikhlas tapi sedikit sekali yang bisa ikhlas. Jika ingin menjadi orang yang ikhlas jadikanlah ikhlas sebagai tujuan yang senantiasa dikejar.

Sumber : Al-Ba’dani, Faishal bin Ali. 2007. Ikhlas, sulitkah? Solo : Aqwam.

Rabu, 26 Desember 2012

1st Day (Ko-Ass)

Hari ini adalah hari pertamaku menjadi seorang dokter muda di RSD dr. Soebandi. Stase pertama yang harus aku lewati adalah stase mata. Stase ini merupakan salah satu stase minor yang melelahkan. Mengapa melelahkan? Karena tugasnya yang bejibun, mulai dari lapsus, refrat, tugas harian, pre-test, post-test, dan tugas-tugas yang lain, tak lupa pula ditutup dengan ujian lisan dan responsi. Dengerinnya aja susah WOW apalagi melakukannya tapi tetap harus positive thinking dan semangat karena tak ada sesuatu apapun yang didapat tanpa dilakukan pengorbanan. Belajar mengorbankan dan mengikhlaskan waktu bermain dan berleha-leha. Walaupun demikian, sebenarnya masih bisa bermain-main kok tapi harus pintar-pintar manage waktu dan menjaga kesehatan.
Beberapa pengalaman menarik dan konyol telah aku lalui hari ini. Kerennya kalau sudah jadi DM, kita bisa memegang pasien secara langsung. Namun, harus selalu ingat bahwa pasien adalah manusia yang harus tetap dihormati dan dijaga kehormatannya. Kita harus pandai-pandai dalam memegang pasien. Maksudnya memegang disini bukan hanya pegang tangan ya, tapi lebih luas lagi yaitu menganamnesis (menanyakan identitas diri dan keluhan-keluhan yang dirasakan), pemeriksaan hingga pembuatan resep. Mengapa harus pandai memegang pasien? Karena pasien adalah guru terbaik seorang DM. Melalui pasien, seorang DM dapat belajar penyakit secara visual. Penyakit-penyakit yang sebelumnya sudah dipelajari melalui text book.
Selain hari ini pengalaman pertamaku jadi DM, hari ini juga merupakan hari pertamaku jaga on call. Semoga tak ada pasien baru yang datang malam-malam ke IGD dengan keluhan sakit mata supaya gak keluar rumah malam-malam, aslinya sih males ganti-ganti baju, keluarin motor dan melaju malam-malam menuju rumah sakit.hehehe...
Semoga semuanya berjalan dengan lancar dan mendapatkan ilmu yang banyak, serta selalu sehat walafiat. aamiiin.

Jadilah Pemuda Muslim yang Taat dan Pandai


Pemuda muslim bukanlah pemuda yang latah dengan perkembangan zaman. Pemuda muslim sejati selalu mempunyai keteguhan hati untuk memperjuangkan kebenaran yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-sunnah. Segala ucapan dan tindakannya hanyalah untuk mengharapkan ridho Allah, bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia semata. Janganlah takut dianggap kuno atau tidak gaul hanya karena selalu berupaya menjalankan perintah dan sunah-Nya. “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing (tidak umum), dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-orang yang asing), beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-apa yang telah dimatikan manusia daripada sunnahku”. (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani). Namun, pemuda muslim sejati bukan pula yang tertinggal oleh perkembangan zaman karena Allah telah menganugerahkan manusia akal untuk berpikir. "..... Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar : 9). Allah menganjurkan kepada manusia untuk menuntut ilmu karena Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia dan sepandai-pandainya manusia adalah yang mampu mengambil hikmah-Nya.

Selasa, 30 Oktober 2012

Double K (Kanker dan Korupsi)



Indonesia diibaratkan tubuh manusia dan sel-selnya adalah rakyat Indonesia.  Tidak hanya sel baik saja yang menyusun tubuh manusia, namun sel jahat tidak jarang pula turut berpartisipasi di dalamnya. Sel jahat lebih dikenal dengan sel kanker. Sel kanker akan berproliferasi atau tumbuh dengan cepat. Sel kanker tumbuh dengan cara menekan sel normal (sel baik) sehingga sel kanker tumbuh membesar. Awalnya sel kanker hanya menggerogoti satu tempat, namun lama-kelamaan sel kanker akan bermetastase atau menyebar ke tempat lain. Pertumbuhan sel kanker ini sama halnya dengan korupsi.

Korupsi sudah menyebar luas di Indonesia, malah sudah ada yang tersusun sistematis seperti halnya jaring laba-laba. Melihat fenomena ini, seandainya saya ketua KPK maka saya akan menyusun strategi. Pertama, saya menyusun peraturan pemberantasan korupsi, lalu menganalisis jaring laba-laba yaitu mencari koruptor beserta relasi-relasinya karena tak jarang antara satu korupsi dengan korupsi yang lain saling berkaitan.

Cara memberantas korupsi sama halnya dengan cara memberantas sel kanker, yaitu pemberantasan hingga akarnya. Karena itu, diperlukan pemeriksaan yang menyeluruh karena jika ada bagian kecil saja yang tidak terdeteksi, ditakutkan dari yang kecil itu tumbuh membesar dan akhirnya menyebar ke tempat yang lain lagi sehingga pemberantasan tidak akan bisa tuntas. Sedangkan untuk pelakunya, sebaiknya meniru cara pengobatan kanker yaitu membuang kanker itu sendiri dan kemoterapi. Membuang kanker diartikan mengasingkan para pelaku koruptor. Sedangkan kemoterapi untuk membunuh sel kanker yang tersisa diartikan dengan diadakannya penyuluhan bahayanya korupsi sehingga mampu membunuh niat rakyat untuk berkorupsi.

Jumat, 12 Oktober 2012

Bahagia Karena Bersyukur

Setiap manusia berhak berkhayal. Berharap lebih dari apa yang dimiliki saat ini. Karna hal itu dapat membuat   hidup semakin bersemangat untuk meraih sukses masa depan. Keinginan dalam hidup ibarat menggali lubang,  dimana lubang itu harus ditutupi pasir supaya tidak berlubang lagi dan pasir itu adalah sebuah usaha. Semakin besar suatu keinginan berarti semakin dalam lubang digali, secara otomatis hal itu membutuhkan pasir yang lebih banyak lagi alias dibutuhkan banyak usaha untuk mencapai keinginan.

Tak semua orang beruntung dengan harta yang melimpah, kebahagiaan yang mencerahkan jiwa. Tapi tak ada yang salah ketika banyak orang mengharapkan semua surga dunia itu. Keinginan yang selalu berharap untuk terkabul. Keinginan yang selalu didambakan supaya cepat terealisasi. Keinginan yang tak jarang membuat seseorang menjadi terlena. Terlena akan kegemerlapan kebahagiaan yang dijanjikan. Padahal kebahagiaan itu sebagian besar bukan berasal dari luar tubuh kita melainkan dari dalam diri kita.

Kita akan merasa bahagia ketika signal kebahagiaan yang ada dalam diri kita menyatakan bahwa kita sedang bahagia. Kita sedang bahagia ketika otak kita menyetujui bahwa kegembiraan berpihak pada diri kita. Lalu mengapa kita masih buta dengan kebahagiaan itu. Kita bisa bahagia walau dalam keadaan gundah gulana. Kita mampu membahagiakan diri kita kapanpun dan dimanapun. Karena kebahagiaan ada dalam relung jiwa kita dan selalu bersama kita. Tak jarang kebahagiaan mengetuk pintu hati kita untuk mempersilakannya masuk tapi cukup jarang hati kita membiarkan kebahagiaan itu masuk dan membahagiakan kehidupan kita.

Syukur adalah sahabat terdekat bahagia. Bahagia sangat menyenangi orang-orang yang bersyukur. Tak jarang bahagia sulit berpisah dari orang-orang yang dengan tulus ikhlas menerima semua yang dia punyai. Walaupun di hadapan orang lain itu kurang, namun bagi orang yang pandai bersyukur itu adalah cukup. Namun, realita zaman sekarang, jarang orang yang mampu bersyukur dengan semua yang didapat. Kekurangan dan mengharapkan lebih dan lebih lagi, itulah yang lebih sering menghinggap di pemikiran sebagian besar orang. Berharap memiliki kebahagiaan seperti orang lain, berharap memiliki harta melimpah seperti orang lain, berharap memiliki seluruhnya seperti yang orang lain miliki. Kurang adanya rasa bersyukur itulah yang membuat bahagia malas untuk mendekatinya.

Biarkanlah bahagia menemani kehidupan kita. Dan menjadikan bahagia sahabat terbaik kita, yaitu dengan cara merekrut syukur sebagai asisten pribadi kita :)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)

Resensi Novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta



Novel "Menggapai Impian, Merengkuh Cinta" adalah salah satu novel yang saya dapat karena saya memenangkan lomba resensi novel "Antusiasme". Saya sangat senang sekali karena selain mendapatkan novel, saya juga mendapat surat yang ditulis langsung oleh penulisnya (tulisan tangan), yaitu Heni Kurniawati. Tapi sebenarnya ada yang miss karena tanda tangannya tidak tertulis di bukunya langsung. Ibaratnya sudah dikasih emas tapi malah minta berlian.hehehe...kurang bersyukur.

Novel ini bercerita tentang seorang cewek bernama Naila yang berasal dari keluarga kurang harmonis, ayah dan ibunya sudah bercerai. Dia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Meskipun dia berasal dari daerah, tepatnya Pare, Kediri namun dia mempunyai tekad yang kuat untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Dia pun nekat kuliah ke Surabaya dan berusaha membiayai kuliahnya dengan uang hasil kerjanya sendiri. Awalnya dia bekerja di sebuah restoran Jepang, lalu dia melamar menjadi pegawai kantoran yang berkecimpung dalam dunia jasa penerjemah, Inggris - Indonesia dan Indonesia - Inggris. Di kantor itulah Naila bertemu dengan Erick. Lalu mereka saling jatuh cinta. Erick adalah bos sekaligus pacar yang sangat dicintai oleh Naila. Namun ternyata indahnya cinta tak selamanya berpihak kepada mereka. Erick harus kembali ke Palu setelah mamanya meninggal. Naila dibuat kecewa oleh Erick karena Erick tak pernah menjelaskan alasannya untuk tidak kembali ke Surabaya dan memutuskan hubungan mereka. Untunglah Naila masih mempunyai sahabat-sahabat yang selalu menghiasi hidupnya. Akhirnya Naila keluar dari kantor itu dan membuka usaha sendiri. Usahanya tak jauh dari keahliannya, yaitu jasa penerjemah. Seiring berjalannya waktu, Naila sadar bahwa dirinya adalah muslimah, sudah seharusnya dia menutup auratnya. Keputusan Naila untuk berjilbab mampu menggetarkan hati Izzul. Izzul pun segera melamar Naila. Tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba Erick muncul lagi di hadapan Naila. Naila yang dalam proses menuju pernikahan pun menjadi kaget. Otaknya masih berteriak meminta penjelasan mengapa Erick meninggalkannya pada waktu itu. Erick pun menjelaskan alasan mengapa dia tak kembali ke Surabaya dan memilih menetap di Palu, karena itulah keinginan mamanya sebelum mamanya meninggal. Erick meminta maaf kepada Naila dan dia meminta Naila untuk kembali kepadanya. Namun, Naila menolaknya, Naila sudah menerima lamaran Izzul yang berarti Naila sudah memutuskan untuk menjalankan hidup bersama Izzul. Akhirnya Naila dan Izzul menikah dengan dihadiri oleh Erick. Tak lama kemudian Erick kembali ke Palu. Kembalinya Erick ke Palu seorang diri adalah suatu kebahagiaan untuk Deeya, sekretaris sekaligus seorang gadis yang mencintai Erick.

Secara keseluruhan alur cerita dalam novel ini sangat bagus. Cerita cinta yang bercabang ini tertulis sangat rapi dan mudah dipahami. Dengan gaya bahasa campuran antara bahasa indonesia dan bahasa khas Jawa Timur atau ala Surabaya membuat saya semakin nyaman untuk membacanya karena kebetulan saya berasal dari Surabaya sehingga hafal dengan logat bicaranya. Selain itu, novel ini syarat dengan pesan-pesan moral. Dalam novel ini mengajarkan kepada kita bahwa semua orang berhak untuk menggapai impiannya. Impian tak mengenal harta atau silsilah keluarga. Impian lebih mengenal usaha dari yang ingin mencapainya. Siapa yang mau berusaha maka dialah yang berhak menggapainya. Ibarat padi, siapa yang mau menanamnya maka dialah yang akan memanennya. Tapi jangan lupa untuk berdoa juga. Penulis juga mengajarkan bahwa penting untuk belajar ilmu ikhlas karena kita tak berhak memutuskan segala sesuatu semau kehendak kita. Kita hanya berhak menjaganya, begitu pula dengan cinta, kita hanya berhak menjaganya ketika cinta itu menjadi hak kita tapi kita harus ikhlas melepaskannya ketika cinta itu tak berpihak lagi kepada kita. Allah lebih mengetahui jauh daripada yang kita ketahui. Dan sebaik-baiknya cinta adalah cinta yang sudah halal.

Di lain sisi, penampilan novel ini sedikit membosankan. Penyetakan novel seperti buku sepertinya kurang tepat karena novel terlihat bukan seperti novel biasanya tapi malah seperti buku sekolah. Sebaiknya novel dibuat dalam bentuk yang lebih kecil dan tulisan dibuat lebih jarang sehingga pembaca lebih nyaman untuk membacanya.

Jumat, 05 Oktober 2012

Bukan Cowok Biasa


Tiga puluh tahun yang lalu aku terlahir di dunia ini. Kini usiaku sudah tak muda lagi. Namun, aku belum menuju ke pelaminan hingga saat ini dan itulah yang membuat keluarga terutama orang tuaku semakin khawatir. Selain itu, aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adikku adalah cowok dan mereka sudah menikah. Aku belum menikah bukan karena aku tak cantik. Aku cantik. Tinggiku 165 cm dengan berat 45 kg.
“Lil, kamu kenapa sih kok belum menikah?”
“Nanti kalau aku menikah, kamu mau shopping sama siapa?”
“Hadeh, aku ini serius. Jawabnya kok malah kayak gitu.”
“Hahaha... lama-lama kamu kayak bundaku ya. Tiap hari selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama. Aku aja sampai bosan jawabnya. Kok bisa-bisanya kalian tak bosan-bosannya tanya kayak gitu ke aku.”
“Soalnya kita belum dapat jawabannya.”
“Kapan aku gak pernah jawab? Aku kan selalu menjawab dengan jelas.”
“Apa? Kamu masih saja tunggu pangeran berkudamu datang jemput kamu? Ada-ada aja ya kamu ini. Jangan mengkhayal deh. Kita ini hidup di dunia nyata.”
“Hahaha... tunggu saja tanggal mainnya. Coming soon.”
“Kamu kenapa sih gak mau terima cowok-cowok yang mau jadi pacar kamu? Kamu pacaran aja dulu, nanti kalau cocok, lanjut deh ke pelaminan.”
“Enak banget ya ngomongnya, ngelakuinnya ini yang sulit. Sudah deh, doakan saja temanmu yang cantik ini semoga dapat jodoh yang tepat dan pada waktu yang tepat. Aamiiin.”
Aku memang selalu terlihat tegar perihal masalah jodohku meskipun aku pun semakin hari sebenarnya semakin khawatir dengan usiaku yang semakin tahun semakin bertambah alias aku sudah semakin tua. Tak jarang aku mendengar julukan ‘perawan tua’. Tapi itulah pilihan hidupku. Aku tak mau menerima cowok-cowok itu bukan karena aku mempunyai syarat-syarat yang super sulit sebagai calon suamiku. Tapi aku ingin ada cowok yang mendekatiku bukan untuk menjadi pacarnya namun jadi istrinya dan aku belum menemukan cowok seperti itu. Biarkanlah aku menanti jodohku. Walaupun aku tersiksa dengan kekhawatiranku tapi semakin hari aku semakin yakin bahwa aku akan bertemu dengan jodohku. Bukan sekedar cowok biasa tapi seorang pria yang bisa membimbingku untuk selalu mencintai-Nya dan semakin mencintainya.

Cinta Satu Arah


“Kak. Kamu lagi ngapain? Boleh minta tolong anter ke perpus gak? Ban motorku bocor nih.”
“Sekarang kamu lagi diman?”
“Masih di rumah.”
“Ok. Tunggu sebentar ya.”
“Ma’acih kakak.”
Permintaan-permintaan manja Dina selalu menghiasi hidupku. Aku selalu berusaha memenuhi semua permintaannya walaupun aku harus bersusah payah untuk mengabulkannya. Contohnya saja siang ini. Siang yang terik ini Dina memintaku mengantarkannya ke perpustakaan kampus dan dia masih berada di rumah sedangkan aku sekarang sudah ada di kampus. Jarak tempuh kampus dan rumah kita paling cepat bisa ditempuh 30 menit.
Aku tak pernah bisa menolak permintaannya. Aku dan dia sudah bersahabat sejak kecil. Terdapat beberapa persamaan yang kita rasakan. Kita sama-sama memiliki orang tua yang super sibuk dan kita sama-sama anak tunggal jadi wajarlah kalau kita sama-sama kesepian. Karena kebersamaan kita yang mulai dari kecil, kita pun tak segan saling memanggil kakak adik. Ada yang beranggapan bahwa kita mempunyai hubungan darah tapi ada pula yang beranggapan bahwa kita sedang menjalin kasih. Awalnya aku berpikir bahwa anggapan itu sangat konyol. Tak mungkinlah aku suka dengan cewek yang sudah aku anggap adekku sendiri. Namun, semakin bertambahnya usia kita, aku merasakan ada getaran-getaran cinta yang mulai merasuki perasaanku. Bukan lagi perasaan sayang dari kakak untuk adek tapi perasaan sayang dari cowok untuk cewek.
“Dek, kalau kamu punya sahabat terus sahabatmu suka sama kamu. Responmu gimana?”
“Aku punya satu komitmen, kalau sahabat selamanya akan jadi sahabat. Aku gak mau hubungan persahabatan yang sudah aku buat ma sahabatku menjadi renggang cuma karena cinta. Cari sahabat kan lebih susah daripada cari cowok kak. Kak. Aku mau cerita sesuatu.”
“Kayaknya cerita bagus nih kok kamu kayaknya antusias banget mau cerita. Ada apa adekku sayang?”
“Aku jadian sama Riko. Asiiiiiiiiik. Kakak masih ingat Riko kan? Cowok yang aku ceritakan dulu itu lho kak, cowok yang.......................................”
Dina masih saja menceritakan kegembiraannya. Aku hanya bisa menganggukkan wajah dan terkadang menyunggingkan sedikit senyuman atau sekedar tertawa palsu. Tak ada yang salah dengan cinta. Tak ada yang salah dengan perasaan. Biarkanlah keadaan tetap seperti ini walaupun cinta tak sedang berpihak padaku. Kita tak akan pernah tau apa yang terjadi esok karena tomorrow is mistery.

Senin, 01 Oktober 2012

Cintaku Hilang


Suasana sangat hening. Tak ada suara yang terucap maupun terdengar. Hanya hembusan angin yang terasa sangat dingin, sedingin badanku yang mulai kaku di tepian pantai.
Tak terasa perpisahanku dan dia sudah dua tahun yang lalu. Perpisahan yang sangat menyayat hatiku, memecahkan kepalaku. Untungnya saja logikaku masih kuasa menahan segala amarahku.
Perjodohan itu masih terasa sangat memukulku, melemparku ke batuan karang yang sangat terjal. Aku tak kuasa memikirkannya namun masalah itu tak kunjung pergi dari otakku. Masalah itu sudah bersarang di pikiranku.
Ingin rasanya mengikhlaskan kejadian dua tahun yang lalu di tepian pantai itu. Ingin rasanya membebaskan perasaanku dari penjara hatiku. Tapi aku belum kunjung menemukan cara yang paling tepat untuk melepaskan semuanya.
Gelapnya hari mengajakku meninggalkan pantai itu. Aku berusaha melangkahkan kakiku yang sudah melemas.
“Kring...”
“Hai dik...masih ingat aku? Aku Cita. Maaf, hapeku hilang. Sekarang aku pakai nomer ini. Oh ya, ini foto bayiku yang baru lahir tadi pagi. Namanya Dika. Sengaja aku kasih nama mirip sama kamu, Diki. Lucu kan? Kapan nie kamu pamer anakmu ke aku? Ayo ayo lekas nikah. Nanti anak kita, kita jodohkan saja.”
Tanpa diminta pandangan kosong itu sirna menjadi berkaca-kaca. Bibir yang tak berucap menyunggingkan senyum indah. Hati yang sepi menjadi berisi penuh semangat.
“Masih ingatlah. Iya, lucu banget. Cantik karena namanya mirip kayak aku, aku kan cakep.hahaha... gak mau ah jodoh-jodohin anak, biar mereka mencari cinta sejatinya sendiri saja. Enak aja, sudah besarinnya bikin repot, mau nikahin aja mau ikut repot-repot juga. Ogah ah.”

Pergolakan Logika dan Hati


Hujan semakin deras. Tangisku pun semakin keras. Aku ingin meluapkan semua kekesalanku. Aku ingin berteriak pada hujan. Aku ingin menyuarakan isi hatiku pada petir. Kesal dalam hatiku tak dapat aku bendung lagi. Aku membencinya. Atau lebih tepatnya aku mulai membencinya.

Empat tahun tak berarti. Semua kebahagiaan menghilang bersama derasnya air hujan yang mengalir deras menuju laut. Peristiwa siang ini sungguh membuat kakiku tak mampu berdiri tegak. Pemandangan yang tak ingin aku lihat terlihat jelas di depan mataku. Aku melihatnya berdua dengan orang. Seseorang yang selama empat tahun bersamaku, berbagi cerita rahasia, berbagi kasih sayang. Siang ini membuat luka hatiku.

Aku tak mampu menguasai pikiran dan hatiku. Keduanya saling berlomba argumen. Tak ada yang mau mengalah. Logikaku mengatakan “Dasar bodoh, maunya dibohongi sama orang yang paling kamu percaya. Dia sudah pernah berbohong ke kamu. Dia sudah pernah mengkhianati kepercayaanmu. Misalkan saja dia bilang akan berubah, tapi apakah kertas yang sudah tergores tinta bisa putih kembali? apa gak mungkin dia akan melakukan hal yang sama? Sekali berbohong, dia akan mengulangi kebohongannya lagi untuk menutupi kebohongan yang lain.” Namun, hatiku berkata lain “Dia pernah menyayangimu. Dia pernah menjadi orang yang paling romantis sedunia. Dialah orang yang selalu mengantakanmu ke dokter ketika kamu sakit. Dialah orang yang tak pernah jera ketika kecerewetanmu membuat ulah. Dialah orang yang menjagamu ketika orang tuamu tak bisa menjagamu dari dekat. Ingatlah kebaikan-kebaikannya. Tak ada manusia yang sempurna. Kamu sangat marah karena kamu sayang kepadanya. Perbedaan benci dan sayang memang sangat tipis.”

“Aaaaahhhhh.....” aku tak mampu menyalahkan argumen dari akalku tapi aku juga tak mampu menyangkal perasaanku yang masih menyayanginya. Tapi aku harus segera memutuskan langkahku. Aku tak mau berlarut-larut seperti ini.
“kring...”
“Hallo...apa kabar sayang?”
“Dik...maaf, aku ingin pindah keluar kota dan kamu tau kan kalau aku tak bisa LDR.”
“Maksudmu apa cit?”
“Aku ingin kita bersahabat saja dik. Maaf. Terimakasih atas semua pengorbanan yang selama ini kamu lakukan. Aku berhutang jasa padamu. Terimakasih. Klik.”

Aku tak mampu meneruskan bicaraku. Aku tak mau dia mendengarku menangis. Good bye my love. Thanks and sorry.

Rabu, 26 September 2012

Bluefly (part 1)


namaku bluefly. aku adalah seekor kupu-kupu berwarna biru. kecantikanku mampu menyihir mata tiap orang yang melihatku, aku suka terbang bebas di atas awan. aku juga suka terbang dan masuk ke pekarangan atau ruang tamu. tak ada yang pernah mengusirku dari rumah mereka. mereka senang sekali ketika aku mengunjungi rumahnya dan terbang kesana-kemari dengan indahnya. tak jarang pulang sorot kamera mengikuti langkahku ketika aku terbang dengan bebas dan indahnya di dalam rumah mereka atau sekedar berjemur di taman bunga. aku senang sekali ketika melihat senyum mereka terlihat merekah seperti merekahnya bunga-bunga yang terhampar luas di hadapanku saat ini.
"Brakkk" aku tak mampu menyeimbangkan diriku. kepalaku pusing. aku mulai melayang, aku mulai terbang tapi aku tak mampu mengepakkan sayapku, aku hanya mampu pasrah jatuh di atas rumput-rumput. aku terdiam cukup lama, aku tak mampu bangun dari tempatku jatuh. dan aku tak ingat apa yang terjadi lagi.
pelan-pelan aku sudah mampu membuka kelopak mataku. tak terasa hari sudah berubah menjadi gelap. ternyata aku tertidur cukup lama, atau lebih tepatnya aku pingsan cukup lama. aku berusaha bangun tapi "ahhh..." sayap kananku terasa sakit sekali. aku berusaha dengan sekuat tenaga mencari asal sakit itu karena badanku masih terasa lemas. aku tak tahan menahan air mataku tapi aku juga tak bisa menyalahkan siapapun. yang aku tau, tadi aku melihat bola putih menyerempet tubuhku hingga aku terjatuh dan aku tak ingat apa-apa, lalu saat ini aku melihat sayap kananku patah. kemana aku harus mengadu? aku sudah tak mampu terbang jauh dalam kondisi seperti ini. rasanya ingin sekali segera cerita ke ayah dan bunda. aku ingin segera pulang. isak tangispun tak dapat aku bendung. air mata sudah membasahi tubuhku namun aku pun tak kunjung berhenti menangis. tangisku pun semakin keras karena semua masalah semakin menumpuk. aku harus menahan luka. aku harus segera pulang supaya lukaku bisa segera diobati tapi aku tak mampu terbang pulang ke rumah. bagaimana caranya aku bisa pulang ke rumah, tak ada satu pun kupu-kupu yang lewat di depan mataku. bagaimana caranya aku memberitahu orang tuaku kalau lukaku semakin sakit dan semakin sakit. aku tak mampu memikirkan semuanya dalam satu waktu, kepalaku mulai pusing. aku tak bisa berpikir apa-apa lagi. aku hanya mampu menangis dan menangis, berharap keajaiaban Tuhan datang berpihak padaku.

bersambung...

Selasa, 25 September 2012

Sebuah Pengganti


selama aku kuliah, rasanya belum ada prestasi yang aku cetak. aku mengalami penurunan yang sangat drastis dalam hal akademikku. selama ini aku hanya menyalahkan kondisiku yang jauh dari orang tuaku. aku merasa belum mampu menerima semua masalah yang aku hadapi hari demi hari sendirian tanpa menceritakan semuanya kepada orang lain, tentunya orang yang sangat bisa aku percaya dan sampai detik ini hanyalah orang tuaku. aku merasa ada yang membebaniku. aku merasa hidupku lebih berat. aku tak setiap hari telpon dengan orang tuaku, meskipun hanya ditelpon sekitar 2x dalam seminggu dan sekitar 2 jam tiap kali telpon tapi waktu itu tak cukup untuk menceritakan semua yang aku hadapi. selain itu, aku termasuk orang yang moody, ketika aku tak mau cerita maka aku tak cerita dan aku paling mood untuk cerita adalah ketika kejadian itu baru saja terjadi karena aku suka melupakan sesuatu dan itu memang aku biasakan, terutama untuk hal-hal yang menyakitiku karena aku tak mau mendzolimi diriku sendiri, aku tak suka menyakiti perasaanku dengan rasa dan pikiran yang merugikan buatku.
namun, point utamanya sebenarnya bukan pada hal itu. teman-temanku yang lain juga jauh dari orang tuanya tapi ternyata mereka masih bisa gemilang dalam hal akademiknya. sepertinya kesalahan adalah dalam diriku sendiri, aku kurang giat dalam belajar. aku tau kelemahanku tapi aku lemah melawannya, atau aku yang kurang berusaha untuk melawannya. namun, hal itu sudah terlambat, masa kuliahku di S1 sudah aku tuntaskan meskipun dengan hasil yang kurang memuaskan karena tidak sesuai targetku. oleh karena itu, aku ingin sekali di akhir masa kuliah S1 ku, aku mengukir prestasi, aku ingin mengikutsertakan skripsiku ke ajang lomba PKM dimana aku sangat berharap bahwa aku bisa lolos PKM dan berlanjut ke PIMNAS serta lolos menjadi pemenang PIMNAS. aamiiin. aku ingin mencetak prestasi pertamaku di kesempatan terakhirku di S1. aamiiin allahumma aamiiin.
semoga Allah dan orang tuaku meridhoi semua jalan yang aku tempuh karena senyum orang tuakulah yang ingin aku rengkuh. mungkin tak bisa lewat nilai yang baik namun bisa digantikan dengan kemenangan yang berasal dariNya. semoga Allah memudahkan jalanku dalam meraih bahagia orangtuaku.aamiiin.
Ya Allah...Engkau lebih tau apa yang terbaik untuk hamba maka hamba serahkan semua urusan hamba kepadaMu...insyaAllah hamba ikhlas menerima semua keputusanMu :)

Dia Bisa, Aku Pasti Bisa


rasanya senang ketika melihat orang lain berhasil, terutama orang yang dekat denganku. rasa bangga yang dia dapatkan terasa pula di relung hatiku. ini mungkin karena pengaruh rasa simpati yang melekat pada diri manusia, termasuk aku. senyum terukir indah mengiringi berita yang membahagiakannya. aku pun turut mengukir senyum, senyum bahagia atas keberhasilannya. rasanya ingin pula merasakannya, menempati posisinya dimana berganti posisi dan aku langsung yang menerima kebahagiaan itu, bukan hanya ikut serta merasakannya kebahagiaannya.
terkadang, tak jarang di dalam kebahagiaanku itu terselip rasa iri dan beribu pertanyaan yang sering sekali meragukan kemampuan dalam diriku sendiri padahal tak semua orang memiliki kesempatan dan kelebihan yang sama. dia bisa mendapatkannya tapi aku tidak, bukan berarti aku tak mampu tapi mungkin kesempatanku tidak disitu. bisa jadi dia mendapatkan hal satu itu tapi dia tidak mendapatkan hal yang lain yang kita dapatkan. tak seharusnya aku menyelipkan rasa iri itu di relung hatiku karena dia hanya akan membusuk dan meracuni sekitarnya. ambil positifnya saja, ambil manfaatnya saja. dia bisa cemerlang dalam hal itu dan aku bisa cemerlang dalam hal lain. dia bisa, aku pasti bisa.
berusaha berusaha dan berusaha...jangan terlalu memikirkan hasilnya tapi terus berusaha melakukan yang terbaik karena dalam hal pasti ada hikmahnya...jadikan semuanya adalah ladang belajar dan mencari kebahagiaan dunia dan akherat.
semangattttttttttttttttttttttttttttttttttttt...aamiiin ^^_

#anggaplah kamu berbicara pada dirimu sendiri
yang bisa merubah diri kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain karena kitalah pemilik utama diri kita

Sayangi Otakmu


lama tak menulis...rasanya sulit sekali untuk membuat satu kalimat yang bagus dan membentuk paragraf yang saling sinergis antar kalimatnya. sesuatu yang jarang dilakukan atau belum pernah dilakukan memang akan menemui suatu titik awal berupa kesulitan. memang tak semuanya akan mengalami kesulitan tapi sebagian besar akan merasakan hal itu. anggap saja otak kita adalah pisau, ketika pisau itu jarang sekali diasah maka pisau yang awalnya tajam maka akan bisa tumpul atau malah berkarat. dari filosofi pengasahan pisau itu sama halnya dengan otak kita. ketika otak kita jarang diasah, jarang diajak berpikir positif, jarang diajak berdiskusi hal-hal yang baru, jarang diajak bermain dengan permainan logika maka dia akan menjadi pemalas, atau malah otak kita mati suri. jangan sampai mati suri deh karna ketika otak kita mati suri so bisa diprediski dia bakal sulit banget dibangunkan. so...apa yang harus kita lakukan???
mulai sekarang, lebih tepatnya mulai detik ini jangan abaikan otak kita, jangan sering-sering dicuekin. kita butuh banget keberadaan dia, kalau dia ngambek pada saat yang tidak tepat alias waktu kita butuh dia buat berpikir, bisa gaswat deh...gak mau kan kalau dikatain lola alias loading lama atau nama kerennya lemot.hahaha...
ayo sayangi otak kita. jadikan dia anugerah terindah dariNya karena lewat dia lah kita bisa menguatkan iman kita atas segala penciptaanNya. daripada dikatain bodoh, mending teriak aja kalau dia pinter, kalau dia pinter kan kita juga ikut tenar.hahaha... atau terus ajak dia ngobrol supaya dia biasa bekerja alias gak jadi pemalas, siapa tau nanti dia bisa nemuin banyak penemuan, bisa-bisa karena dia kita bisa jadi kayak Einsten, keren banget tuh. tapi jangan disuruh kerja terus ya, dia butuh istirahat dan makan juga. pokoknya take 'n give lah.hohoho...
selamat belajar teman-teman...selamat berkarya...success is ours.aamiiin :)

Jumat, 21 September 2012

Kata Ayah



“Kata Ayah”, dua kata yang sangat sederhana namun memiliki makna yang berarti bagiku. Dua kata yang tak jarang aku sisipkan di awal kalimatku. Ayah adalah laki-laki yang paling aku hormati dan sayangi. Setiap kata yang terucap oleh Ayah selalu mampu menyita perhatianku.
Suatu malam di bulan Syawal. Aku, adek, ibu, dan ayah yang sedang berkunjung ke rumah Nenek berkumpul di ruang tengah. Malam itu para nyamuk turut berkumpul. Satu per satu mereka menempel di kulit kami, namun sudah menjadi kebiasaanku untuk tidak memukulnya tapi hanya mengusirnya.
“Yah, nyamuk itu hidupnya berapa lama?”
“Hidupnya cuma beberapa hari.”
“Kasihan ya, belum lagi kalau menggigit lalu dipukul, kemungkinan besar mati.”
“Ya seperti itulah hidup. Secara normal, hidup nyamuk cuma beberapa hari. Mereka butuh makan untuk bertahan hidup tapi ketika mencari makan, mereka malah harus mempertaruhkan nyawanya. Untuk bertahan hidup, nyamuk harus menghisap darah manusia. Ketika menghisap darah, tak jarang nyamuk dipukul dan akhirnya mati. Hidup yang bakal kamu lewati nantinya juga seperti itu. Hidup itu keras, apalagi seiring dengan bertambahnya tahun dan berubahnya zaman. Butuh perjuangan yang keras untuk tetap bisa bertahan hidup. Yang penting juga, kamu harus mempunyai skill. Kuli bangunan dan tukang itu kerjanya sama, yaitu membuat bangunan. Tapi tukang mempunyai skill, dia tahu cara-caranya membuat bangunan, tenaga dan otaknya ikut bekerja. Berbeda dengan kuli bangunan, mereka lebih mengandalkan tenaganya saja. Meskipun kerja kuli tak jarang lebih berat daripada tukang, namun hasil yang didapatkan si tukang sudah dapat dipastikan lebih banyak daripada si kuli. Otak itu lebih mahal. Karena itu, belajar yang rajin supaya nanti dapat kerja yang enak, tidak perlu terlalu mengeluarkan banyak tenaga tapi hasilnya banyak.”
“Hmm” Aku hanya menundukkan kepala sambil tersenyum.
“Selain nyamuk, cicak itu juga hebat. Dia tak bersayap tapi makanannya bersayap. Kadang-kadang kalau dipikir secara logika, hal itu tidak mungkin. Nyamuk bisa terbang kemana-mana tapi cicak hanya bisa menempel di tembok. Tapi Allah sudah mengaturnya begitu. Kalau cicak mau bekerja keras, cicak pun bisa makan nyamuk. Semuanya membutuhkan usaha untuk mendapatkan sesuatu, tidak ada yang instan. Dan jangan lupa untuk selalu mengiringi usaha dengan selalu berdoa. Perihal hasilnya, itu sudah menjadi hak Allah.”




Selasa, 04 September 2012

Jam Bekerku

tak tok tak tok, suara jam bekerku terdengar nyaring. jarum jam merubah detik menjadi menit dan menit menjadi jam. fenomena yang sudah sering terlihat sehari-hari. tak pernah ada kata mundur baginya. maju dan terus maju adalah semboyannya.

aku terus menatap jarum jam yang perlahan tapi pasti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. lalu menggeser jarum jam yang lain. bersama-sama merubah waktu terang menjadi gelap dan bersama-sama pula merubahnya menjadi terang kembali.

kepalaku mulai terasa pening. otak mengajak meratapi nasib, mengenang kebahagiaan yang dulu pernah ku raih. aku tegakkan lagi badanku, berusaha kembali ke kehidupanku kini. tak selamanya aku bisa lari dari masalahku. akulah yang punya masalah, sewajarnya akulah yang menyelesaikannya. mataku semakin menajam menatap pergeseran jarum bekerku. pikiranku melayang, mencoba mengamati dan mengambil hikmah dari kebiasaan benda mati ini. tak seharusnya aku terus menatap ke belakang. tak seharusnya aku meratapi kehidupanku sekarang yang tak seringan dulu. semakin hari aku harus semakin dewasa dan masalah-masalah itulah yang akan mendewasakanku. mataku tetap tertuju pada pergeseran jarum jam bekerku dan aku semakin yakin, waktu akan terus berjalan dan aku butuh untuk hidup, aku harus terus menatap ke depan, aku harus terus berjalan dan aku harus berubah, mengubah yang buruk menjadi baik, terutama adalah merubah penyakit berbahaya di dunia, yaitu MALAS.

kita bisa karena kita mau
kita bisa karena kita terbiasa
kita bisa karena kita mau terbiasa
terbiasa menjadi yang terbaik
terbiasa selalu hidup optimis